Translate

Rabu, 28 April 2021

Ketika Rumah Menjadi Tempat Untuk Pulang

 

Ketika rumah menjadi tempat untuk pulang

Ia adalah tempat yang dituju saat langkah telah begitu jauh berjalan

Ia adalah hati yang dirindu saat diluar sana banyak kita temui ketidakpastian

Ia adalah tempat istirahat ternyaman, saat dunia begitu melelahkan

Dan ia adalah bahu terkokoh saat hati mulai kecewa dengan begitu banyak harapan

 

Ketika rumah menjadi tempat untuk pulang

Tak perlu banyak alasan mewah untuk menjelaskan

Ada pondasi yang telah kita tanam begitu kuat agar ia mampu menopang

Ada batu yang telah kita susun rapi agar ia mampu berdiri

Ada atap yang pernah kita hamparkan bersama untuk bisa melindungi

 

Sekecil dan sesempit apapun rumah yang kita miliki

Ingatlah selalu bahwa dari tempat ini mimpi besar itu telah kita mulai

Dan dari tempat ini cita-cita besar itu mulai kita langkahkan

 

Sebesar dan seluas apapun rumah yang kita miliki

Kita telah sama-sama tahu bahwa ia telah kita bangun dalam waktu yang tidak sebentar dan harus terus kita rawat agar ia tetap indah

Kita telah sama-sama tahu ia tersusun atas perbedaan-perbedaan yang selalu kita selaraskan agar mampu saling menyeimbangkan

Kita telah sama-sama tahu ia tersusun atas kepercayaan yang akan selamanya kita pupuk bersama

 

Saat banyak alasan untuk menyerah,

Semoga kita terus diingatkan bahwa rumah ini adalah rumah kita untuk pulang

Semoga kita selalu diingatkan bahwa cukup rumah ini yang menjadi tempat kita untuk kembali.

 

Sumber gambar : idpngtree.com



Purbalingga, 24 Maret 2021

17.30

Rabu, 03 Maret 2021

MENJAGA LANGKAH

 

Setiap orang memiliki cara berjuang sendiri- sendiri untuk meraih apa yang ia citakan, untuk memperjuangkan apa yang ia yakini. Tujuan yang ia rasa akan begitu menyenangkan ketika kita sampai kesana. Namun ternyata, lelah selalu ada untuk menemani, kebosanan hadir untuk menguji apakah hal itu benar-benar kita inginkan, atau kita hanya mencari kesenangan sesaat tanpa mau bertemu dengan sebuah hambatan.

Ada yang memilih berhenti atau bahkan mundur, namun ada juga yang memilih untuk beristirahat sejenak, kembali mengumpulkan energi lalu kembali melanjutkan perjalanan. “ tak mengapa pelan, jika terus berjalan aku yakin suatu saat akan sampai” katanya.

Ada yang merasa bahwa hambatan yang ia hadapi jauh lebih besar dari kemampuan yang dimiliki. Disisi lain kita juga bertemu dengan ia yang bisa mengambil pelajaran dari setiap kejadian, bisa terus mendewasa karena pengalaman dan semakin bijak saat bertemu dengan banyak orang.

Kita belajar bahwa ada hal yang mungkin tidak kita maukan kedatangannya akan hadir dalam perjalanan ini untuk menemani. Ada rasa tak nyaman yang hadir untuk mengingatkan kita bahwa beginilah perjuangan, tidak mudah.

Saat langkah, pundak dan pikiran terasa berat untuk kembali melanjutkan perjalanan. Ingatlah bahwa kita sudah pernah menurunkan ego untuk mau melangkah, dan itu tidak mudah bukan?. Kita sudah banyak bertemu dengan kesulitan dan kita bisa bertahan bahkan terus berjalan bukan?




Rabu, 06 Juni 2018

Juni 26




Seringkali mengerti, tapi seringkali juga lupa bahwa batas antara percaya diri dan kesombongan begitu tipis. Kita yang sedang belajar menata diri untuk menjadi pribadi yang dipercaya oleh diri sendiri seringkali dihadapkan dengan sebuah kesombongan.

Seringkali mengerti batas antara rendah hati dan nyali yang ciut begitu dekat, sehingga rendah hati bisa saja dijadikan topeng atas ketidakberanian.

Begitupun batas antara menasehati dan menggurui begitu dekat, sehingga terkadang sering bersenggolan. Membuat kita belajar bahwa tidak hanya berbicara tentang permasalahan diri saya, tapi juga permasalahan orang lain. Tidak hanya tentang jalan saya, tapi juga jalan orang lain. Jalan yang tidak selalu sama dengan jalan yang telah atau akan saya ambil.

Yang paling dekat bisa jadi adalah yang paling jauh dan yang terjauh bisa jadi adalah yang paling dekat. Layaknya malam ke pagi, bisa jadi begitu dekat, bisa jadi begitu jauh. Semua begitu mudah bagiNya. Berjalan dulu belum tentu sampai lebih dulu, yang berjalan dibelakang belum tentu terlambat sampai. emua begitu mudah bagiNya.

Semakin lama, semakin belajar memahami bahwa yang begitu banyak kelebihan pun memiliki kekurangan dan yang memiliki kekuranganpun banyak kelebihan. Menjadikan kekurangan sebagai suatu penyadaran bahwa kita bukanlah makhluk yang sempurna. Menjadikan kelebihan yang diberikan sebagai alasan untuk terus berbagi.

Kalimat nasehat untuk terus belajar seringkali kita dengar. Belajar memahami bahwa sejatinya tidak ada titik berhenti belajar, kecuali jika waktu telah habis. Tentang apa yang sudah dilaksanakan dan sedang direncanakan.

Belajar bukan hanya belajar keluar tentang jauhnya melangkah, tentang banyaknya kawan, tentang banyaknya buku yang dibaca tetapi juga belajar kedalam untuk mengenal siapa diri sendiri, apa tugas dan sudahkah dilaksanakan, tentang mengapa Allah mengizinkan diri ini berada ditempat sekarang.

Belajar bahwa apapun pilihan yang dihadapkan, pilihlah yang membuatmu lebih dekat denganNya.
Semakin hari, semakin bertambah usia, semakin banyak belajar.




Jazakumullah khairan do’a terbaiknya.

#RamadanKareem
Purwokerto, 7 Juni 2018


Selasa, 10 Oktober 2017

satu cerita tentang Jakarta





Tidak selalu alasan kebahagiaan  berasal dari sesuatu yang besar, terkadang kebahagiaan  itu ada saat kita bisa menjadi alasan bahagia dalam diri orang lain.

Perjalanan hidup hingga kita sampai di titik ini adalah hal yang diizinkanNya untuk kita lalui.

Perjalanan kita bersama dengan orang yang memiliki tujuan yang sama, membawa kita menyelami apa yang selama ini kita pendam.

Ketakutan itu pernah ada, hingga pada saatnya kita tahu bahwa ketakutan tak membawa apapun untuk kehidupan ini. Bahkan saat kita sudah tidak takut lagi dengan apa yang pernah kita takutkan, kehidupan yang berbeda akan terjadi.

Aku percaya semua hal yang terjadi dengan kita, tentang orang yang bertemu dan saling mengenal memang harus kita lalui. Gagal dan kecewa menjadi hal yang tidak luput dalam kehidupan kita sebagai seorang hamba, namun takut untuk gagal sehingga kita memutuskan untuk tidak berbuat apapun juga tidak menjadi daftar pilihan dalam kehidupan ini.

Kebetulan-kebetulan yang Allah rencanakan begitu luar biasa, hingga kaki ini bisa sampai di tempat yang tak pernah ku duga.

Aku yakin sekecil apapun kita, kita adalah bagian dari kehidupan. Setiap jengkal tempat yang kita tapaki menjadi sekolah kehidupan yang tak kita dapati di dalam ruang kelas , bahkan inilah kelas yang sesungguhnya.

Nasehat itu meyakinkanku bahwa ketika kita menjadi orang baik, kitapun dipertemukan dengan orang-orang yang baik. Itu salah satu semangat untuk menjadi seseorang yang beruntung.

Untuk segala kegagalan dan kelucuan, untuk semua kecewa, air mata dan tawa pasti ada alasan terbaik dariNya.


“ Jakarta :)  “

                                                                                                  Pwt, 10102017

Senin, 28 November 2016

biarkan ia berjalan..

Ada saat Allah mempertemukan kita dengan orang-orang baik, agar kita belajar kebaikan darinya.

Ada saat Allah mempertemukan kita dengan orang-orang yang belum baik, sehingga kita bisa belajar bersama-sama untuk memperbaiki.


Masih ingat senyuman dan tetesan itu.

Sungguh itu bukan tetesan karena ia lemah, justru ia ingin membasahi tanah dibawahnya agar bibit yang ia tanam tumbuh subur dan menjadi manfaat.

Bukankah pelangi tercipta karena ada tetesan dalam hangatnya cahaya matahari???



Saat waktu terus berjalan, biarkan ia berjalan.

Saat hidup harus berputar, biarkan ia terus berputar.

Berdamailah dengan masa lalu, karena ia begitu jauh dan kita tidak bisa mencapainya kembali.

Jangan pula kau risaukan masa depan, karena ia adalah rahasia yang kita tidak tahu sampai kapan kesempatan  itu diberikan.

Hiduplah di masa sekarang, lakukan terbaik peran yang Allah percayakan kepadamu.

Karena tak ada detik yang tak kita pertanggungjawabkan.

Bukan banyaknya waktu yang kita miliki, namun apa yang kita isi didalamnya..






tetaplah belajar, teruslah memperbaiki :)

Purwokerto, 28 November 2016 



Selasa, 02 Agustus 2016

Catatan Akhir PIR 34



Assalamu’alaikum Wr.Wb

Ketika aku muda, aku ingin mengubah dunia. Lalu aku sadari, betapa sulit mengubah dunia. Lalu aku putuskan untuk mengubah negaraku saja. Ketika aku sadar, aku tidak bisa mengubah Indonesia, aku mulai berusaha mengubah kotaku. Maka aku mulai mengubah keluargaku. Kini aku semakin renta, akupun tak bisa mengubah keluargaku. Aku sadarai bahwa satu-satunya yang bisa aku ubah adalah diriku sendiri.

Mengikuti Pengajian I’tikaf Ramadhan (PIR 34) PP Budi Mulia Yogyakarta banyak sekali ilmu yang saya dapatkan. Tentang bagaimana peran kita untuk umat dan apa yang bisa kita lakukan setelah ini.
Hal kemiskinan, kebodohan menjadi masalah yang tidak bisa kita hindari dalam kehidupan kita saat ini.



Bismillahirahmanirrahim, Dengan Menyebut Nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Dalam sesi “ Siasat Kontribusi Kaum Muda Mengatasi Masalah Kebodohan dan Kemiskinan” yang disampaikan oleh Ust. Eko Prasetyo mengingatkan kita bahwa ada banyak hal yang bisa kita pelajari dan peran yang bisa kita ambil untuk berusaha bermanfaat untuk sesama.

Penjelasan Ust. Eko , sejarah keruntuhan umat islam karena orang islam tidak kembali pada kemurnian islam, ketika kita mulai mengabaikan aspek-aspek spiritual.

Disebutkan juga oleh Al Farabi, bodoh saat tidak memiliki pengetahuan Illahiah, jahat karena memiliki ilmu tersebut tapi tidak menerapkan, salah karena warganya memperoleh hal yang berubah-ubah.

Bukan kita bodoh, karena sejatinya karena sejatinya kita memiliki pengetahuan Illahiah, hanya saja kita masih harus banyak belajar tanpa melupakan al ‘Alim ( Yang Maha Mengetahui/ Memiliki Ilmu)
Kita juga tak jahat, bukan kita tidak mau menerapkan, hanya kita masih tertidur, masih terlalu nyaman pada posisi kita sekarang.
Salah karena memperoleh hal yang berubah-ubah. Inilah proses belajar kita, dihadapkan dengan banyak hal yang berbeda, disajikan banyak pilihan dalam hidup.

“Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia. Menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar dan beriman kepada Allah” (QS Ali Ilmran: 110)


  • · Jadilah orang yang cerdas dengan pengetahuan Illahiah yang kita miliki, 
  •    Jadilah orang yang baik dengan menerapkan ilmu yang kita miliki untuk kebaikan, 
  •  Jadilah orang yang benar dengan menempatkan satu yang kekal sebagai tujuan hidup.

Mata dan telinga yang paling dekat dengan tangan ini adalah mata dan telinga saya sendiri karena sejatinya tulisan ini adalah nasehat untuk diri yang masih harus banyak belajar.

Billahi fii sabililhaq fastabiqul khairat
Wassalamu’alaikum Wr.Wb

                                            Ditulis Di Yogyakarta 29 Ramadhan 1437 H bertepatan dengan 3 Juli 2016.
                                            Kafilah Aisyah binti Abu Bakar


                                            Mutiara Dien S



Kamis, 26 Mei 2016

Dalam sebuah Ikatan

Tak harus bertatap muka untuk berdiskusi,
Tak juga harus saling bergandengan tangan untuk berlari meraih cita.

Kita berasal dari daerah yang berbeda, namun bukan suatu alasan untuk tak saling mengenal.
Kita,
Dibawah langit ibu pertiwi
Merekah mawar menyambut mentari ( Senandung Dakwah Ikatan)
Kita masih dibawah langit yang sama, dalam ikatan merah persyarikatan.

Bersyukur sekali rasanya Muktamar XVII dilaksanakan di ibukota, setidaknya akses kesana mudah dan tidak terlalu jauh dari Purwokerto hehehe. Walau sudah tak lagi di struktural tak mengurangi kecintaanku pada ikatan ini, pada kekeluargaan dan kebersamaannya.


Terimakasih IMMawan Opik yg sudah mau direpotkan pagi-pagi buta hehe..Terimakasih sudah jauh-jauh walaupun katanya dekat tapi tetap saja jauh :), kakak tunggu opik main Purwokerto.

Terimakasih IMMawati Herfina, IMMawati Kutai yang luar biasa. terimakasih jalan-jalan pagi sekalinya hehe. Gak akan lupa jumpa fina di Gedung D5 dan jalan-jalan tengah malam hehe. Ini foto yang diambilin sama fina :)



belum sempat foto bareng yaa nduk. Masih pengen juga bareng sama fina, tapi sudah harus pulang ke purwokerto.. Kakak tunggu fina disini, naik kereta kesininya nduk hehe

Terimakasih IMMawati Heviana/ Ngah Evi IMMawati lampung yang duduknya tepat didepan barisan saya, dan ragu saat mau menyapa, takut salah orang hehe..  Terimakasih waktunya Ibu guru, ustadzah, teman diskusi yang luar biasa. Alhamdulillah bisa jumpa. Kode dari Lampung bertemunya di Jakarta hehe :)



IMMawati Nauba, IMMawati Eka, IMMawati Ummi, srikandi-srikandi IMM yang luar biasa. Sukses perjuangan berangkat Muktamarnya, bawa ilmu umtuk teman-teman di Tapsel. Jauh2 dari Sidimpuan ke Padang lanjut ke Jakarta dan punya cerita sendiri dengan IMMawan Jatim hehehe, Hebat sekali IMMawati-IMMawati ini. Jumpa pertama di depan Asrama Haji. gak akan lupa kakak :), biasanya salam-salam kita tulis di kertas :)






sudah bisa disampaikan secara langsung :), harus edit-edit foto juga biar bisa bersebelahan hehe


Alhamdulillah sudah diberi kesempatan berjumpa



seperti mimpi rasanya bisa berjumpa dengan kalian. Cepat sekali rasa waktu itu berjalan, namun terasa begitu berkesan... terimakasih diantar ke bus


kakak sayang kalian :D :D :D


                                                                                                                             Jakarta, 24 Mei 2016 :)