Translate

Senin, 12 Januari 2015

Aku.....



Malam ini pikiranku melayang, mencoba mengingat hal2 yang pernah terjadi dalam hidupku….

Mutiara Dien Safitri,
 begitulah nama yang orang tuaku berikan pada ku.. menurut penjelasan nama itu mengandung harapan kelak putri mereka akan menjadi perhiasan di dalam agamaNya yang suci.. aamiin.. keluarga dan teman2ku lebih sering memanggil dini, lebih simple kurasa, namun beberapa juga memanggil dien.. 

Laki2 hebat dalam hidupku Ayahanda Taufik Rakhman, Ibunda Dumyati, Kakak perempuanku Evi Sofia Fitriani, serta ade2ku Selvi Maulida Rakhmawati, Nabil Rizky Zamzami, Azqia Aurora Madina..Aku sangat menyayangi kalian...
Masa kecilku banyak dihabiskan di tanah kelahiranku di Purbalingga, meskipun kadang sewaktu2 berkunjung ke Pemalang, kampung Bapak..

Meski namaku Mutiara, kulitku termasuk hitam bila dibandingkan kakak, adikku dan kawan2 seusiaku. Kadang tak pas namaku dengan kulit hitamku. tak apalah, hitam itu manis katanya..hhehe

Memasuki usai sekolah, aku ikut belajar di TK Aisyiyah Bustanul Athfal satu2nya taman kanak-kanak di desaku.. aku melewati masa sekolah di TK 2 tahun, lupa-lupa ingat masa2 itu.. 1 tahun di bangunan sekolah lama yang kini sudah di gunakan sebagai rumah warga dan 1 tahun di bangunan sekolah yang baru, sekolahku itu masih berdiri tegak hingga sekarang dengan lambang Matahari yang memancarkan 12 cahaya dan Kalimat Syahadat di tengah gambar matahari, (macam Sekolah dalam novel Laskar Pelangi yg lambang Matahari itu disebutkan hehe)

Cerita dari ibu, aku hampir tak diperbolehkan masuk SD Negeri di desa kami karena umurku yang terlalu muda saat itu. Aku sangat mengingikan sekolah disana karena kakak dan teman-temanku juga bersekolah disana.. tak tahu mengapa aku akhirnya diterima juga dengan catatan bila aku tak bisa mengikuti pelajaran, bisa saja aku tinggal kelas…

Seragan Merah Putih, dan menjadi siswa SD.. guru kelas satu bernama bu Rus. Ibu guru dengan sanggul menjadikan beliau terlihat begitu anggun.Rumah beliau di depan gedung 2 sekolah kami. saat itu kelas kami masih menggunakan papan tulis hitam, kapur dan tak lupa tuding.tahukah kalian apa itu tuding?? Tuding itu dibuat dari potongan bambu, besarnya kira2 satu jari kelingking orang dewasa dengan panjang sekitar satu meter untuk menunjuk hal2 yang sedang dijelaskan oleh ibu guru. Saat itu aku termasuk anak yang kadang kurang hati-hati, hingga saat kami bermain aku terjatuh hingga bekas luka di keningku masih hingga sekarang, mirip orang india ada tanda di kening..hehe… awal masa sekolah kami selalu dididik disiplin oleh bapak, setelah pulang sekolah harus tidur siang, di kunci dikamar walaupun aku dan kakakku sering kabur lewat dengan melompati jendela.nakal dikit halal lah..(peace)

Kelas 2, sedikit lupa  guru kelasku saat itu adalah Pak Sultoni, kepala sekolah kami. Kami tak tahu rumah beliau, karena beliau bukan warga desa kami, hanya pernah dijelaskan bahwa beliau tinggal di kota kecamatan.. Setiap guru datang selalu kami berebutan mencium tangan mereka, tak hanya guru setiap penjaga sekolah kami datang juga kami berebutan mencium tanggannya, namanya pak Rasno . hingga sekarang masih bertemu dengan pak Rasno ketika mengantar adikku ke sekolah.

Kelas 3, wali kelas kami bernama bu Rop, selain mengajar beliau juga punya rias pengantin, rumah Beliau di sebelah desa kami, seberang jalan raya.. Bu rop juga merupakan guru yang baik, sabar. Tak ada guru yang galak di sekolah kami kala itu. Kelas 3 kami mulai berolah raga di lapangan desa, gurunya bermana Bu Yuti kalau tidak salah, guru olah raga kami seorang perempuan, hebat bukan ??. senang sekali kalau pelajaran olahraga itu tiba, karena untuk menuju lapangan desa kami harus melewati persawahan, itu yang begitu menyenangkan, berpeleset dan jatuh ke tanah itu menjadi hal biasa. Kalau ada teman yang jatuh kami lebih sering menertawainya dulu sebelum membantu menolong.. sungguh indah cerita itu. Seingatku mulai kelas 3 ini aku belajar mengenal Pramuka, ikut dalam pesta siaga, perkemahan, belajar tali temali.. sungguh menyenangkan.

Kelas 4, Pak Rusyono, sosok pak guru yang begitu tegas, namun ramah dan sayang kepada murid2nya. Tulisan beliau sangat rapi dengan Huruf tegak bersambungnya. Buku di sekolah kami tak bisa dibilang banyak sehingga kami sering menyalin bacaan yang ada di buku cetak. Pak guru dan sekretaris kelas yang biasanya menulis di papan tulis, sekali-kali juga kami di dikte agar lebih cepat dalam menulis. Ruang kelas kami berada di gedung 2, bersebelahan dengan lapangan dan pemakaman, dan deretan pohon bambu. Sungguh menyeramkan sekolah kami kalau mendung. Pak Rus guru yang begitu baik, kalau sedang panen jambu di rumahnya, beliau selalu menyuruh anak laki-laki ke rumahnya, memetik jambu dan membawanya ke sekolah.. segar rasanya. Beliau juga sering sekali membacakan kami cerita sebelum kami pulang kerumah, memperlihatkan kami satu alat musik, harmonica yang baru pernah kulihat. 

Kelas 5, kami kembali menempati gedung utama sekolah kami, Bu Sugi itu nama panggilan kami untuk guru kelas 5, hal yang paling ku ingat ketika kelas 5 adalah kami yang harus berpindah kelas ke rumah Bu Sugi yang rumahnya di sebelah sekolah kami, ada pohon tumbang di belakang kelas kami dan tepat roboh di ruang kelas 5. Itu tak menyurutkan kami belajar, karena tidak semua murid merasakan bersekolah di rumah gurunya.. hehe.. tak jarang aku berangkat lebih awal dari rumah untuk sekedar mampir ke kebun untuk mencari cengkeh yang jatuh atau melinjo di musim-musim tertentu, dan kami lanjutkan pada siang harinya setelah pulang sekolah.. kadang untuk mencari itu harus berkeliling dari kebun satu ke kebun yang lain,setelah kami jemur cengkeh-cengkeh dan melinjo itu bisa kami jual. asik lah. teman setiaku  itu namanya Rohyatun, panggilannya Siroh, banyak di desaku nama panggilan awalnya menngunakan “Si”, contohnya Darsiti kami panggil dengan Sidar, Siti Khomariah, kami panggil Sikhom.. kalau dipikir-pikir unik memang..

Kelas 6, sejak masuk kelas 6 SD, kami di ajari oleh guru kami pak Tomo untuk belajar berjilbab. Sehingga semua murid perempuan kelas 6 diwajibkan memakai jilbab, walaupun masih menggunakan serangan pendek. Beruntung kala itu, ibu membuatkanku seragam baru hingga aku bisa memakai seragam lengan panjang, dan buka rok yang ku pakai, melainkan baju putih lengan panjang dan celana merah.. seragam kelas 6 yang berbeda. Sewaktu kami SD ada yang namanya kotak belajar, jadi beberapa murid di kelas kami di tunjuk untuk memegang satu mata pelajaran, membuatkan soal latihan untuk dikerjakan teman2 satu kelas dan mengoreksi pekerjaan teman2. Aku mendapat tugas memegang pelajaran Agama Islam, mungkin karena aku yang menggunakan seragam panjang, walaupun pelajaran Agamaku juga sama seperti teman2.. hehe. Dikelas 6 ini pulalah aku mulai memantapkan diri untuk menggunakan jilbab, bismillah semoga dengan jilbab ini aku belajar menjadi perempuan yang lebih baik lagi.

Masa-masa Sekolah Dasar terasa begitu cepat berlalu, hingga tiba hari kelulusan. Hanya beberapa dari kami yang melanjutkan ke SMP. Kalaupun melanjutkan mereka lebih memilih di SMP yang terletak di desa kami, dan hanya kami ber 3 yang melanjutkan SMP di Kota Kecamatan : Anny, Darojat dan Aku.. sungguh lebih menyenangkan masa2 SD dengan teman2 di desa… itu yang kurasa saat pertama kali masuk SMP.

Saat2 SD aku juga memiliki teman yg begitu dekat, kami masih satu keluarga walau rumah kami berjauhan, namanya Lilis. Beberapa kali juga kami berkirim surat, bercerita tentang sekolah kami.. gayanya masih satu desa pake surat2an..hehe

SMP Negeri 1 Bobotsari, Spensaboss nama kerennya.. salah satu sekolah favorit di tempat kami, beruntung aku diterima di sana, kalau tidak diterima katanya aku hendak dimasukkan ke SMP Muhammadiyah atau Pondok Pesantren, bersama dengan kakakku. Tak bisa kubayangkan hidup di pondok pesantren yang tak bebas bepergian..hehe.. Rahayu, Jumiati, Erin, Rahayu teman2 yang begitu dekat saat kami sekolah di SMP. Anny juga tetap menjadi teman setiaku, apabila satu dari kami pulang duluan, akan saling menunggu untuk sekedar pulang bersama.

3 tahun juga terasa begitu cepat, 1B kelas pertamaku di sekolah ini dengan Wali Kelas Bu Sri Saptaningsih. Berbeda dengan sekolah SD dimana satu guru mengajar berbagai mapel, mulai SMP satu guru hanya memegang satu maple. Kelas 2A dengan Wali Kelas Bu Sulastri, guru matematika terhebat kami yang akan diam tiba-tiba bila ada salah murid yang ngobrol di kelas. Pramuka masih menjadi pilihanku kala itu, disamping Badminton karena itu olah raga yang paling kusuka. Saat tahun ke-2 hanya beberapa siswa yang memakai jilbab, dan satu angkatanku hanya aku yang berjilbab. Gak enak rasanya berbeda dengan teman2, tapi itulah cita2ku dari pertama kali aku berjilbab, aku ingin belajar. Kelas 3E yang letak kelasnya di pojok belakang, dekat kamar mandi..hehe wali kelasku bernama pak Edi, beliau guru yang menyenangkan. Semangat kalau sedang mengajar.Teman sebangkuku namanya Rina Nurkhasanah, tak dengar lagi kabarnya sejak kami lulus SMP, katanya dia ikut ke luar kota bersama orang tuanya. Semoga kau selalu dijagaNya teman dan kita bias berjumpa kembali.

Tidak terlalu banyak ceritaku di SMP, ada satu guru yang begitu baik, Beliau guru Olahraga, namanya pak Supriyadi, beliau juga guru ibu waktu SMP. Sebenarnya aku bukan orang yang senang pada pelajaran olah raga, servis volley tak sampai, lari pun tak bisa cepat, apalagi berenang (itu terakhir kulakukan saat ujian akhir olah raga SMP, kata beliau yang penting sudah berani mauk ke kolam renang nanti dikasih nilai) hehehe

Saat memasuki SMA hampir separuh siswa barunya berasal dari SMPku, sudah menjadi turun-temurun kalau anak2 dari SMP Negeri 1 Bobotsari masuk ke SMA Negeri 1 Bobotsari. Begitu juga dikelasku, separuh siswanya berasal dari sekolahku dulu, masa2 MOS menjadi hal yang menyenangkan sekaligus kurang menyenangkan ketika kita haru menebak2 benda apa yang kakak kelas maksud untuk dibawa esok hari. X H kelasku dengan wali kelas bu Meila, ibu guru ekonomi dengan perawakan kecil. kelas kami terletak di pojok dekat dengan Lab Komputer . saat penjurusan tiba, aku lebih memilih jurusan ipa karena saat itu cita-citaku menjadi seorang Dokter. XI IPA 4, itu kelasku dan sungguh lupa nama wali kelasnya ( bapak maafkan saya, begitu berdosa saya hingga lupa nama bapak ), namun saya ingat bapak seorang guru fisika dan dipindahtugaskan ke kota kelahiran bapak sehingga tidak bias terlalu dekat dengan bapak. XII IPA 3 atau nama kerennya cannabis sativa (communitas of nature bios satuan tiga ipa). Mentang2 anak IPA yaa dan wali kelasnya Bu Retno guru Biologi, nama kelasnya pakai nama itu..hehe. Saro’ah yang setia menjadi teman sebangkuku, Nani yang mempunyai nama belakang seperti namakku, Sari, Caca, dan banyak temanku yang lain mengisi hari2ku di SMA, tak lupa satu nama Rizky Pambajeng Ramadhani, dia berasal dari Surabaya, kami akran dari kelas X, namun keakraban itu hilang ketika kita memilih jurusan yang berbeda, aku di IPA dan dia mengambil IPS. semoga kita bisa berjumpa lagi teman..

Ambalan Pangeran Diponegoro dan Raden Ajeng Kartini, menjadi awalku belajar di organisasi. Ekstra Pramuka setiap sabtu, Pemantapan, LDK, Penegak Bantara menjadi kata yang tidak terlupa. 

Dan semua yang telah terjadi jangan padamkan bara ini, dan semua yang akan terjadi tetap kobarkan bara ini. ( lagunya kak Nathan yang masih ku ingat)

LULUS 100%, Alhamdulillah…


PRODI D.III KEBIDANAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO

Tak pernah terbayangkan aku bersekolah dikampus yang selalu kami sebut sebagai kampus bapak ketika kami berjalan-jalan di Purwokerto. Kuliah dengan perempuan semua dalam satu kelas, menjadi hal yang begitu menyenangkan. Dengan seragam kebanggaan putih2 kami. 

Asrama, menjadi tempat tinggal pertamaku di Purwokerto, tak pernah ku bayangkan kalau aku kembali ke asrama dengan posisiku yang berbeda dengan dulu.Belajar menjadi seorang bidan, praktikum di Rumah Sakit, Puskesmas, di Rumah Bidan. Rindu saat2 bersama kalian Srintil, Tuyul, Tante Rina, Ponakan Rahmi, Lien, Zaza, Mb Dea, Mb Mufi, Dedew, Eby, Erma, Caca, Furry, Keken, Ame.. Kawan2 angkatan 3 Kebidanan UMP. Menulis Asuhan Kebidanan hingga mual ( gak ada hubungannya ya, tapi itu betul terjadi)

Hal yang begitu mengesankan adalah aku berkenalan dengan HMPS Kebidanan dan si Merah atau Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. Komisariat Ilmu Kesehatan, itulah tempat kami belajar dan mengenal si Merah ini, Tami, Didi, Ketum Dwi, kalian sungguh orang2 “gila” yang kutemui di kampus ini. Kenangan kita dalam ikatan ini menjadikan kita begitu akrab.Sekre sudah laksana rumah kita sendiri, mengerjakan tugas, bermain, bercanda.. entah kapan kita bisa berkumpul lengkap kembali, ku berharap semoga kita akan di pertemukan kembali. Special for my Ketum yg mungkin sudah pulang ke Sumatera, ditunggu kembali lagi kesini yaa , Tami yang sudah lulus nersnya, Didi yang masih ners.keep spirit kawan..

3 Tahun yang begitu cepat, Oktober 2012 Kuakhiri masaku manjadi Mahasiswa dan Wisuda.. menyandang gelar Ahlimadya Kebidanan, Alhamdulillah.. Kuliah selama 3 tahun, Praktikum, Askeb, KTI terjawab sudah semua.

Ada hal yang masih memberatkanku ketika Wisuda adalah aku harus berpisah pula dengan IMM, rumahku, keluargaku disana. Beruntung kala itu ada lowongan dikampus, dan Alhamdulillah aku lolos, lega rasanya bisa kembali ke IMM dan bergabung dengan PC IMM Banyumas. Ketum Umar , Bendum Elok, Bid IMMawati  Mb Vita n Tami, Bid Hikmah Ms Bagus n Lukas, Bid Kader Lina n Didi, Bid Organisasi Miko n Najun, Bid Kewirausahaan Lina n Ani, Bid keilmuan Mb Riska n Omet, Bid Seni Budaya Ade n Lis, Bid Dakwah Bowo n Hafidz, Bid Sosial Mb Diyah Bid Media Pak Pres Lukim yang kutinggal, maafkan aku hehe, Rifky, Ms Hajir, Arini sungguh kalian adalah orang2 hebat dalam Hidupku.dari  IMM juga aku mengenal kawan yang menginspirasiku belajar menulis.. terimakasih sahabat…

Aku bersyukur mengenal kalian ::)