Malam ini pikiranku melayang, mencoba mengingat hal2 yang
pernah terjadi dalam hidupku….
Mutiara Dien Safitri,
begitulah nama yang orang tuaku
berikan pada ku.. menurut penjelasan nama itu mengandung harapan kelak putri
mereka akan menjadi perhiasan di dalam agamaNya yang suci.. aamiin.. keluarga
dan teman2ku lebih sering memanggil dini, lebih simple kurasa, namun beberapa
juga memanggil dien..
Laki2 hebat dalam hidupku Ayahanda Taufik Rakhman, Ibunda
Dumyati, Kakak perempuanku Evi Sofia Fitriani, serta ade2ku Selvi Maulida
Rakhmawati, Nabil Rizky Zamzami, Azqia Aurora Madina..Aku sangat menyayangi kalian...
Masa kecilku banyak dihabiskan di tanah kelahiranku di
Purbalingga, meskipun kadang sewaktu2 berkunjung ke Pemalang, kampung Bapak..
Meski namaku Mutiara, kulitku termasuk hitam bila
dibandingkan kakak, adikku dan kawan2 seusiaku. Kadang tak pas namaku dengan
kulit hitamku. tak apalah, hitam itu manis katanya..hhehe
Memasuki usai sekolah, aku ikut belajar di TK Aisyiyah
Bustanul Athfal satu2nya taman kanak-kanak di desaku.. aku melewati masa
sekolah di TK 2 tahun, lupa-lupa ingat masa2 itu.. 1 tahun di bangunan sekolah
lama yang kini sudah di gunakan sebagai rumah warga dan 1 tahun di bangunan
sekolah yang baru, sekolahku itu masih berdiri tegak hingga sekarang dengan
lambang Matahari yang memancarkan 12 cahaya dan Kalimat Syahadat di tengah gambar matahari, (macam
Sekolah dalam novel Laskar Pelangi yg lambang Matahari itu disebutkan hehe)
Cerita dari ibu, aku hampir tak diperbolehkan masuk SD
Negeri di desa kami karena umurku yang terlalu muda saat itu. Aku sangat
mengingikan sekolah disana karena kakak dan teman-temanku juga bersekolah
disana.. tak tahu mengapa aku akhirnya diterima juga dengan catatan bila aku
tak bisa mengikuti pelajaran, bisa saja aku tinggal kelas…
Seragan Merah Putih, dan menjadi siswa SD.. guru kelas satu
bernama bu Rus. Ibu guru dengan sanggul menjadikan beliau terlihat begitu
anggun.Rumah beliau di depan gedung 2 sekolah kami. saat itu kelas kami masih
menggunakan papan tulis hitam, kapur dan tak lupa tuding.tahukah kalian apa itu tuding??
Tuding itu dibuat dari potongan bambu,
besarnya kira2 satu jari kelingking orang dewasa dengan panjang sekitar satu
meter untuk menunjuk hal2 yang sedang dijelaskan oleh ibu guru. Saat itu aku
termasuk anak yang kadang kurang hati-hati, hingga saat kami bermain aku
terjatuh hingga bekas luka di keningku masih hingga sekarang, mirip orang india
ada tanda di kening..hehe… awal masa sekolah kami selalu dididik disiplin oleh
bapak, setelah pulang sekolah harus tidur siang, di kunci dikamar walaupun aku
dan kakakku sering kabur lewat dengan melompati jendela.nakal dikit halal lah..(peace)
Kelas 2, sedikit lupa guru kelasku saat itu
adalah Pak Sultoni, kepala sekolah kami. Kami tak tahu rumah beliau, karena
beliau bukan warga desa kami, hanya pernah dijelaskan bahwa beliau tinggal di
kota kecamatan.. Setiap guru datang selalu kami berebutan mencium tangan
mereka, tak hanya guru setiap penjaga sekolah kami datang juga kami berebutan
mencium tanggannya, namanya pak Rasno . hingga sekarang masih bertemu dengan pak
Rasno ketika mengantar adikku ke sekolah.
Kelas 3, wali kelas kami bernama bu Rop, selain mengajar
beliau juga punya rias pengantin, rumah Beliau di sebelah desa kami, seberang
jalan raya.. Bu rop juga merupakan guru yang baik, sabar. Tak ada guru yang
galak di sekolah kami kala itu. Kelas 3 kami mulai berolah raga di lapangan
desa, gurunya bermana Bu Yuti kalau tidak salah, guru olah raga kami seorang
perempuan, hebat bukan ??. senang sekali kalau pelajaran olahraga itu tiba,
karena untuk menuju lapangan desa kami harus melewati persawahan, itu yang
begitu menyenangkan, berpeleset dan jatuh ke tanah itu menjadi hal biasa. Kalau
ada teman yang jatuh kami lebih sering menertawainya dulu sebelum membantu
menolong.. sungguh indah cerita itu. Seingatku mulai kelas 3 ini aku belajar
mengenal Pramuka, ikut dalam pesta siaga, perkemahan, belajar tali temali..
sungguh menyenangkan.
Kelas 4, Pak Rusyono, sosok pak guru yang begitu tegas,
namun ramah dan sayang kepada murid2nya. Tulisan beliau sangat rapi dengan
Huruf tegak bersambungnya. Buku di sekolah kami tak bisa dibilang banyak
sehingga kami sering menyalin bacaan yang ada di buku cetak. Pak guru dan
sekretaris kelas yang biasanya menulis di papan tulis, sekali-kali juga kami di
dikte agar lebih cepat dalam menulis. Ruang kelas kami berada di gedung 2,
bersebelahan dengan lapangan dan pemakaman, dan deretan pohon bambu. Sungguh
menyeramkan sekolah kami kalau mendung. Pak Rus guru yang begitu baik, kalau
sedang panen jambu di rumahnya, beliau selalu menyuruh anak laki-laki ke
rumahnya, memetik jambu dan membawanya ke sekolah.. segar rasanya. Beliau juga
sering sekali membacakan kami cerita sebelum kami pulang kerumah,
memperlihatkan kami satu alat musik, harmonica yang baru pernah kulihat.
Kelas 5, kami kembali menempati gedung utama sekolah kami,
Bu Sugi itu nama panggilan kami untuk guru kelas 5, hal yang paling ku ingat
ketika kelas 5 adalah kami yang harus berpindah kelas ke rumah Bu Sugi yang
rumahnya di sebelah sekolah kami, ada pohon tumbang di belakang kelas kami dan
tepat roboh di ruang kelas 5. Itu tak menyurutkan kami belajar, karena tidak
semua murid merasakan bersekolah di rumah gurunya.. hehe.. tak jarang aku
berangkat lebih awal dari rumah untuk sekedar mampir ke kebun untuk mencari
cengkeh yang jatuh atau melinjo di musim-musim tertentu, dan kami lanjutkan
pada siang harinya setelah pulang sekolah.. kadang untuk mencari itu harus
berkeliling dari kebun satu ke kebun yang lain,setelah kami jemur cengkeh-cengkeh dan melinjo itu bisa kami jual. asik lah. teman setiaku itu namanya Rohyatun, panggilannya Siroh,
banyak di desaku nama panggilan awalnya menngunakan “Si”, contohnya Darsiti
kami panggil dengan Sidar, Siti Khomariah, kami panggil Sikhom.. kalau
dipikir-pikir unik memang..
Kelas 6, sejak masuk kelas 6 SD, kami di ajari oleh guru
kami pak Tomo untuk belajar berjilbab. Sehingga semua murid perempuan kelas 6
diwajibkan memakai jilbab, walaupun masih menggunakan serangan pendek.
Beruntung kala itu, ibu membuatkanku seragam baru hingga aku bisa memakai
seragam lengan panjang, dan buka rok yang ku pakai, melainkan baju putih lengan
panjang dan celana merah.. seragam kelas 6 yang berbeda. Sewaktu kami SD ada
yang namanya kotak belajar, jadi beberapa murid di kelas kami di tunjuk untuk
memegang satu mata pelajaran, membuatkan soal latihan untuk dikerjakan teman2
satu kelas dan mengoreksi pekerjaan teman2. Aku mendapat tugas memegang
pelajaran Agama Islam, mungkin karena aku yang menggunakan seragam panjang,
walaupun pelajaran Agamaku juga sama seperti teman2.. hehe. Dikelas 6 ini
pulalah aku mulai memantapkan diri untuk menggunakan jilbab, bismillah semoga
dengan jilbab ini aku belajar menjadi perempuan yang lebih baik lagi.
Masa-masa Sekolah Dasar terasa begitu cepat berlalu, hingga
tiba hari kelulusan. Hanya beberapa dari kami yang melanjutkan ke SMP. Kalaupun
melanjutkan mereka lebih memilih di SMP yang terletak di desa kami, dan hanya
kami ber 3 yang melanjutkan SMP di Kota Kecamatan : Anny, Darojat dan Aku..
sungguh lebih menyenangkan masa2 SD dengan teman2 di desa… itu yang kurasa saat
pertama kali masuk SMP.
Saat2 SD aku juga memiliki teman yg begitu dekat, kami masih
satu keluarga walau rumah kami berjauhan, namanya Lilis. Beberapa kali juga kami berkirim
surat, bercerita tentang sekolah kami.. gayanya masih satu desa pake
surat2an..hehe
SMP Negeri 1 Bobotsari, Spensaboss nama kerennya.. salah
satu sekolah favorit di tempat kami, beruntung aku diterima di sana, kalau
tidak diterima katanya aku hendak dimasukkan ke SMP Muhammadiyah atau Pondok
Pesantren, bersama dengan kakakku. Tak bisa kubayangkan hidup di pondok
pesantren yang tak bebas bepergian..hehe.. Rahayu, Jumiati, Erin, Rahayu teman2
yang begitu dekat saat kami sekolah di SMP. Anny juga tetap menjadi teman
setiaku, apabila satu dari kami pulang duluan, akan saling menunggu untuk
sekedar pulang bersama.
3 tahun juga terasa begitu cepat, 1B kelas pertamaku di
sekolah ini dengan Wali Kelas Bu Sri Saptaningsih. Berbeda dengan sekolah SD
dimana satu guru mengajar berbagai mapel, mulai SMP satu guru hanya memegang
satu maple. Kelas 2A dengan Wali Kelas Bu Sulastri, guru matematika terhebat
kami yang akan diam tiba-tiba bila ada salah murid yang ngobrol di kelas.
Pramuka masih menjadi pilihanku kala itu, disamping Badminton karena itu olah
raga yang paling kusuka. Saat tahun ke-2 hanya beberapa siswa yang memakai jilbab,
dan satu angkatanku hanya aku yang berjilbab. Gak enak rasanya berbeda dengan
teman2, tapi itulah cita2ku dari pertama kali aku berjilbab, aku ingin belajar.
Kelas 3E yang letak kelasnya di pojok belakang, dekat kamar mandi..hehe wali
kelasku bernama pak Edi, beliau guru yang menyenangkan. Semangat kalau sedang
mengajar.Teman sebangkuku namanya Rina Nurkhasanah, tak dengar lagi kabarnya
sejak kami lulus SMP, katanya dia ikut ke luar kota bersama orang tuanya.
Semoga kau selalu dijagaNya teman dan kita bias berjumpa kembali.
Tidak terlalu banyak ceritaku di SMP, ada satu guru yang
begitu baik, Beliau guru Olahraga, namanya pak Supriyadi, beliau juga guru ibu
waktu SMP. Sebenarnya aku bukan orang yang senang pada pelajaran olah raga,
servis volley tak sampai, lari pun tak bisa cepat, apalagi berenang (itu
terakhir kulakukan saat ujian akhir olah raga SMP, kata beliau yang penting
sudah berani mauk ke kolam renang nanti dikasih nilai) hehehe
Saat memasuki SMA hampir separuh siswa barunya berasal dari
SMPku, sudah menjadi turun-temurun kalau anak2 dari SMP Negeri 1 Bobotsari
masuk ke SMA Negeri 1 Bobotsari. Begitu juga dikelasku, separuh siswanya
berasal dari sekolahku dulu, masa2 MOS menjadi hal yang menyenangkan sekaligus
kurang menyenangkan ketika kita haru menebak2 benda apa yang kakak kelas maksud
untuk dibawa esok hari. X H kelasku dengan wali kelas bu Meila, ibu guru ekonomi dengan perawakan kecil. kelas kami terletak di pojok dekat dengan Lab Komputer . saat penjurusan tiba, aku lebih memilih
jurusan ipa karena saat itu cita-citaku menjadi seorang Dokter. XI IPA 4, itu
kelasku dan sungguh lupa nama wali kelasnya ( bapak maafkan saya, begitu
berdosa saya hingga lupa nama bapak ), namun saya ingat bapak seorang guru
fisika dan dipindahtugaskan ke kota kelahiran bapak sehingga tidak bias terlalu
dekat dengan bapak. XII IPA 3 atau nama kerennya cannabis sativa (communitas
of nature bios satuan tiga ipa). Mentang2 anak IPA yaa dan wali kelasnya Bu
Retno guru Biologi, nama kelasnya pakai nama itu..hehe. Saro’ah yang setia
menjadi teman sebangkuku, Nani yang mempunyai nama belakang seperti namakku,
Sari, Caca, dan banyak temanku yang lain mengisi hari2ku di SMA, tak lupa satu nama Rizky Pambajeng Ramadhani, dia berasal dari Surabaya, kami akran dari kelas X, namun keakraban itu hilang ketika kita memilih jurusan yang berbeda, aku di IPA dan dia mengambil IPS. semoga kita bisa berjumpa lagi teman..
Ambalan Pangeran Diponegoro dan Raden Ajeng Kartini, menjadi
awalku belajar di organisasi. Ekstra Pramuka setiap sabtu, Pemantapan, LDK,
Penegak Bantara menjadi kata yang tidak terlupa.
Dan semua yang telah
terjadi jangan padamkan bara ini, dan semua yang akan terjadi tetap kobarkan
bara ini. ( lagunya kak Nathan yang masih ku ingat)
LULUS 100%, Alhamdulillah…
PRODI D.III KEBIDANAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO
Tak pernah terbayangkan aku bersekolah dikampus yang selalu
kami sebut sebagai kampus bapak ketika kami berjalan-jalan di Purwokerto.
Kuliah dengan perempuan semua dalam satu kelas, menjadi hal yang begitu
menyenangkan. Dengan seragam kebanggaan putih2 kami.
Hal yang begitu mengesankan adalah aku berkenalan dengan HMPS
Kebidanan dan si Merah atau Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. Komisariat Ilmu
Kesehatan, itulah tempat kami belajar dan mengenal si Merah ini, Tami, Didi,
Ketum Dwi, kalian sungguh orang2 “gila” yang kutemui di kampus ini. Kenangan
kita dalam ikatan ini menjadikan kita begitu akrab.Sekre sudah laksana rumah
kita sendiri, mengerjakan tugas, bermain, bercanda.. entah kapan kita bisa
berkumpul lengkap kembali, ku berharap semoga kita akan di pertemukan kembali.
Special for my Ketum yg mungkin sudah pulang ke Sumatera, ditunggu kembali lagi
kesini yaa ,
Tami yang sudah lulus nersnya, Didi yang masih ners.keep spirit kawan..
3 Tahun yang begitu cepat, Oktober 2012 Kuakhiri masaku
manjadi Mahasiswa dan Wisuda.. menyandang gelar Ahlimadya Kebidanan,
Alhamdulillah.. Kuliah selama 3 tahun, Praktikum, Askeb, KTI terjawab sudah semua.
Ada hal yang masih memberatkanku ketika Wisuda adalah aku
harus berpisah pula dengan IMM, rumahku, keluargaku disana. Beruntung kala itu
ada lowongan dikampus, dan Alhamdulillah aku lolos, lega rasanya bisa kembali
ke IMM dan bergabung dengan PC IMM Banyumas. Ketum Umar , Bendum Elok, Bid
IMMawati Mb Vita n Tami, Bid Hikmah Ms
Bagus n Lukas, Bid Kader Lina n Didi, Bid Organisasi Miko n Najun, Bid
Kewirausahaan Lina n Ani, Bid keilmuan Mb Riska n Omet, Bid Seni Budaya Ade n
Lis, Bid Dakwah Bowo n Hafidz, Bid Sosial Mb Diyah Bid Media Pak Pres Lukim yang kutinggal, maafkan
aku hehe, Rifky, Ms Hajir, Arini sungguh kalian adalah orang2 hebat dalam
Hidupku.dari IMM juga aku mengenal kawan yang menginspirasiku belajar
menulis.. terimakasih sahabat…
Aku bersyukur mengenal kalian ::)
